Kamis, 19 Juli 2012

Bilamana Hisab Sebagai Pilihan Pertama?


hilal, bulan sabit, ru`hiyatul hilal
Di Indonesia untuk penentuan awal dan akhir Ramadhan (1 Syawal) ada dua metode yang bisa digunakan, yaitu RU`YATUL HILAL (melihat hilal, bulan tsabit yang muncul pada awal bulan sebagai pertanda awal masuknya bulan hijriah) dan metode HISAB (penetapan berdasarkan perhitungan ilmu astronomi).

Sudah menjadi rutinitas setiap tahunnya, pemerintah melalui departemen agama melakukan rukyatul hilal untuk menentukan tanggal 1 Ramadhan atau 1 Syawal. Pemerintah menempatkan petugasnya di 90 titik untuk mengamati hilal, pertanda datangnya bulan baru. Mulai dari Sabang hingga Merauke, ratusan orang terlibat dalam kegiatan ini. Tidak hanya dari unsur pemerintah, dari kalangan ulama dan masyarakat pun berpartisipasi dengan satu tujuan yaitu melihat hilal (rukyatul hilal).
Di sisi lain, pemerintah juga menetapkan “standar pengamatan” yang dikenal dengan Metode Imkanur Rukyat 2 derajat, dimana penampakan hilal akan diakui jika secara hisab berada diatas 2 derajat.
Imkanur Rukyat ini merupakan kombinasi antara rukyatul hilal (pengamatan bulan tsabit) dengan hisab (ilmu astronomi).
Tidak jarang umat menjadi bingung yang mana yang harus diikuti RU`HIYATUL HILAL atau HISAB?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut mari kita lihat bagaimana Nabi Muhammad SAW, Para sahabat, mas tabi`in, dan masa tabi`ut tabi`in menentukan awal bulan hijriyah.
1.       Masa Nabi Muhammad SAW & Para sahabat

Nabi Muhammad SAW bersabda:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ
Berpuasalah kalian dengan melihatnya (hilal) dan berbukalah dengan melihatnya pula. Apabila kalian terhalang maka sempurnakanlah jumlah bilangan hari bulan Sya'ban menjadi tiga puluh". (Bukhori 1776).

Dari hadits di atas jelas Nabi Muhammad SAW & para sahabat menentukan awal bulan Ramadhan dengan metode RU`HIYATUL HILAL (melihat hilal, bulan tsabit yang muncul pada awal bulan sebagai pertanda awal masuknya bulan hijriah).

Hingga pada suatu hari ada seorang sahabat bertanya kepada beliau tentang berapa jumlah hari untuk tiap bulan hijriyah. Kemudian beliau bersabda,”Sesungguhnya kami adalah umat Ummi (Tidak bisa baca tulis)”. Namun saat itu Nabi juga membuka kedua tangannya (10 jari terbuka semua) sebanyak 3 kali, kemudian kembali membuka tangannya dengan 10 jari terbuka 2 kali terus diikuti membuka kedua tangannya dengan satu jempol ditekuk.

Maka dari kasus di atas menjadi dasar untuk bulan – bulan hijriyah adalah sebanyak 30 hari atau 29 hari, tidak ada yang 31 hari.

Berarti ada kemungkinan jumlah bulan Sya`ban atau Ramadhan berjumlah 29 hari / 30 hari. Karena ketika di tanggal ke-29 pada bulan Sya`ban atau Ramadhan Hilal belum terlihat atau Langit ufuk barat tertutup awan atau mendung, Nabi menyuruh para sahabat untuk menggenapkan hari menjadi 30 hari sebagaimana hadits di atas.

2.       Masa Khulafaur Rosidin (4 sahabat-Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali)

Jika ketika saat Nabi Muhammad SAW  masih hidup dengan jelas menentukan awal bulan hijriyah dengan melihat Hilal. Demikian pula pada masa Khulafaur Rosidin, mereka juga menentukan awal bulan Ramadhan dan Syawal dengan cara Ru`hiyatul Hilal (Melihat bulan sabit pertama di ufuk barat). Pada masa ini belum dikenal yang namanya ilmu Hisab / Ilmu astronomi / Ilmu Falak. Namun pada masa ini sudah banyak para sahabat yang sudah pandai berhitung dan membaca.

3.       Masa Dinasti Bani Umayyah (Tabi`in / Murid Para sahabat Nabi)

Mari kita lihat di Masa Bani Umayyah ini, di samping sebagian besar saat itu sudah pandai membaca, & menulis, adapula sebagian dari mereka yang sudah kenal, paham, atau mengerti tentang ilmu astronomi dan perbintangan. Walaupun sudah ada sebagian dari mereka sudah kenal dan paham tentang ilmu astronomi ternyata pada masa Bani Umayyah ini menentukan awal bulan ramadhan dan awal syawal dengan Ru`hiyatul Hilal. Maka di masa Dinasti Bani Ummayyah (Tabi`in) tetap memakai cara yang pernah digunakan pada masa Nabi Muhammad SAW & masa Khulafaur Rosidin, mereka tidak memakai Hisab dalam menentukan awal bulan Ramadhan.

4.        Masa Dinasti Abasiyah (Tabi`it Tabi`in)

Pada masa ini adalah masa puncak kejayaan Islam dan masa keemasan ilmu pengetahuan dalam Islam atau lebih dikenal dengan sebutan The Golden Age atau Al`ashrudzdzahaniyun. Dimana pada masa ini hampir semua ilmu sudah ada, dari masalah kedokteran, filsafat, perbintangan, anatomi, botani, dst. Bahkan pada masa ini banyak ulama` disamping dia paham tentang ilmu Dienul Islam mereka juga paham Ilmu Hisab atau Ilmu perbintangan atau Ilmu astronomi. Tidak hanya puluhan tetapi sampai ratusan. Dalam sejarah pada masa ini orang – orang Eropa & Amerika masih pada hidup di hutan – hutan.

Namun sekali lagi pada masa Dinasti Abasiyah ini para ulama` tetap memakai system Ru`hiyatul Hilal dalam menentukan awal ramadhan ataupun awal syawal. Padahal saat itu banyak ulama` disamping faqih dalam hal ilmu agama mereka juga paham ilmu astronomi, akan tetapi mereka tetap memegang Sunnah Nabi. Mereka tidak mengalahkan tuntunan Sunnah dengan perkembangan Ilmu logika atau teknologi.

Terus kapan model Hisab dalam islam itu dimulai? Yaitu di masa – masa akhir Dinasti Abasiyah (Tabi`it Tabi`in) ada SATU ulama` yang dia disamping paham tentang ilmu Dienul Islam dia juga mengerti akan ilmu astronomi. Hingga suatu hari dating akhir bulan Sya`ban (Tanggal 29 Sya`ban) kalangan umat Islam saat itu bertanya kepada beliau kapan jatuhnya bulan Ramadhan.

Maka ulama` tadi kemudian menyarankan untuk sore itu (tgl 29 Sya`ban) untuk melihat Hilal di ufuk barat. Kebetulan saat itu langit berawan / mendung. Karena berdasarkan dalil Nabi bahwa jika tertutup mendung maka Nabi menyuruh menyempurnakan / menggenapkan menjadi 30 hari, maka ulama` tersebut kemudian menyuruh umat islam agar kembali kerumah masing – masing dan mengatakan bahwa besok belum berpuasa.

Akan tetapi sesampainya di rumah Ulama` ini ragu – ragu, karena menurut perhitungan ilmu perbintangan / astronomi dia harusnya sore itu Hilal sudah terlihat. Karena tertutup awan sehingga tidak nampak. Maka hatinya bergejolak dengan dua pilihan antara menggenapkan bulan Sya`ban saat itu menjadi 30 hari berdasarkan sabda Nabi atau menetapkan bahwa keesokan harinya sudah puasa karena menurut perhitungan astronomi bahwa seharusnya sore itu sudah 1 Ramadhan.

Akhirnya ulama` tadi secara diam – diam di keesokan harinya dia menunaikan puasa sendirian tanpa diberitahukan kepada khalayak ramai. Maka saat itulah awal mulanya di kenal penentuan awal Ramadhan dengan HISAB.

Dari kisah ulama` tabi`it tabi`in tadi dapat disimpulkan bahwa pemakaian HISAB hanya sebagai ALTERNATIF TERAKHIR ketika RU`HIYATUL HILAL sudah ditunaikan. Atau bias dikatakan Alternatif BUKAN MENJADI SATU PILIHAN DARI DUA PILIHAN.

Ini saja Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah BAHWA ORANG TADI (ulama` tadi) yang tidak menjadikan alternative penentu pilihan pertama, beliau mengatakan bahwa orang tadi “Syaadz : Nyeneh” atau “Mubtadi` : Orang yang menentukan hal baru (bid`ah) dalam ibadah”. LALU SEBUTAN BURUK APA YANG LEBIH PANTAS BAGI ORANG / ORGANISASI YANG MENJADIKAN HISAB SEBAGAI PILIHAN PERTAMA PADAHAL RU`HIYATUL HILAL BELUM DITUNAIKAN?

Sumber :
Ringkasan Kajian Rutin Bersama Ust. Abdullah Manaf Amin di Masjid Al-Hidayah Perum Klodran Indah, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah.


Anda sedang membaca artikel tentang Bilamana Hisab Sebagai Pilihan Pertama? dan anda bisa menemukan artikel Bilamana Hisab Sebagai Pilihan Pertama? ini dengan url http://kanggurukoe.blogspot.com/2012/07/bilamana-hisab-sebagai-pilihan-pertama.html, anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Bilamana Hisab Sebagai Pilihan Pertama? ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda, namun jangan lupa untuk meletakkan link Bilamana Hisab Sebagai Pilihan Pertama? sumbernya.

Related Posts :

Terima kasih telah berkunjung di blog Kang Guru. Silahkan tinggalkan komentar anda di kotak komentar dan klik suka atau share artikel ini di Facebook, Twitter, maupun Google+1.

Reactions:

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...